Oleh Muchammad Imam Buchori
Anak itu lahir sekitar tahun 1984.
Ia terlahir den
gan selamat, tiada kekurangan apapun. Mulai dari kepala, tangan, perut, hingga kaki terlihat normal-normal saja. Namun siapa sangka ia sedari kecil tidak pernah bertemu ibu kandungnya sejak usia 5 tahun. Ia adalah ibu Reza Kusumastuti. Ia dulu tinggal bersama orangtua kadungnya di Lampung, saat itu pula ia seperti anak-anak lainnya, menikmati masa-masa penuh keceriaan yang tiada batasnya. Ia juga sekolah layaknya anak-anak lain.
gan selamat, tiada kekurangan apapun. Mulai dari kepala, tangan, perut, hingga kaki terlihat normal-normal saja. Namun siapa sangka ia sedari kecil tidak pernah bertemu ibu kandungnya sejak usia 5 tahun. Ia adalah ibu Reza Kusumastuti. Ia dulu tinggal bersama orangtua kadungnya di Lampung, saat itu pula ia seperti anak-anak lainnya, menikmati masa-masa penuh keceriaan yang tiada batasnya. Ia juga sekolah layaknya anak-anak lain.
Orangtua kandungnya tidak sanggup
lagi membiayai kebutuhan hidupnya. Jangankan untuk ia sang anak, kebutuhan
sehari-haripun kadang selalu pas-pasan. Dan keadaanya berubah saat ia berusia
lima tahun, tepatnya tahun 1989. Saat itu ia dititipkan bersama orangtua
angkatnya di daerah Cilincing, Jakarta. Orangtua kandungnya pun memberikan sang
anak dengan perasaan penuh harapan. Suatu saat bila Reza besar kelak ia akan
dijemput pulang olehnya. Ia dititipkan di rumah yang keadaanya sangat kaya saat
itu.
Ia pun hidup dengan tidak memikirkan
siapa orangtua yang selama ini merawatnya? Apakah orangtua kandung atau angkat,
yang penting ia bisa ceria dan tidak menyesal bila ia nantinya tahu, itulah
pikiran sang ibu angkat. Di saat ia bermain bersama saudaranya di tempat yang
sangat sederhana nan luas, sang anak pembantupun ikut bermain dengannya. Saat
mereka asyik bermain, anak pembantu itu iseng-iseng bilang ke Reza, “Kamu itu
sebenarnya bukan anak ibu itu lho”. Reza pun terdiam sampai menghentikan
aktivitasnya bermain. Tetapi pikiran itu ia pendam sampai waktu yang pas untuk
ia keluarkan.
Reza pun sekolah dan tumbuh dewasa. Di sela-sela kesibukannya, ia
terpikir siapa sih orangtua kandung terutama ibunya kok tega-teganya sih ia
selama ini setiap hari hanya bertemu orangtua angkat yang nampaknya menyembunyikan masalah ini,
dan di saat itu pula ia mencuri-curi waktu untuk mencari informasi tentang
siapa sebenarnya orangtua kandung dan dimana jejaknya sampai sekarang.
Pencarian pun dimulai sampai yang
terakhir sampai ia kuliah. Saat ia bertanya ke tetangga dekatnya, ia mengetahui
bahwa ia bersama orangtua kandung di daerah Cilincing itu. Di saat ia harus
menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswi, ia terus mencari-cari orangtua
kandung terutama ibunya di thun 1999. Sambil bertanya, ia pun menyimpulkan
kehidupannya saat sebelum lima tahun dulu. “Ternyata begini, mengapa ia tak
diberitahu sedari dulu? Haruskah ia bekerja keras mencarinya dan ia sendiri
saat itu belum tahu masalah ini?”
Pencarian nampaknya akan berakhir.
Apakah ini sebagai titik masalah yang selama ini terpikirkan olehnya? Jawabnya
ya, karena itulah momen terakhir bersama ibu kandungnya. Ternyata ibu
kandungnya selama ini pergi dengan raga yang sudah berpisah dengan nyawa.
Beliau dimakamkan di daerah tempat tinggalnya dulu. Pikiran yang mengganjal
selama ini sudah hilang separuh, meskipun penyesalan masih ada dan ia berpikir
apakah takdirnya begini, dan ia merenung sangat lama di depan makam ibunya dan
berpikir di mana ayah kandungnya. Momen inipun ia tulis dan dijual
seluas-luasnya agar semua anak yang masih punya orangtua kandung pun bersyukur
dan tidak seperti ia. Wallahu a’lam bish
shawab.




0 komentar:
Posting Komentar