Samiri adalah seorang dari umat Nabi Musa AS yg selamat dari kejaran Firaun. Namun ia berkhianat saat Nabi Musa AS pergi ke bukit Thursina. Ia membuat patung sapi dan kemudian men
dakwakan patung itu sebagai Tuhan. Hasil kerja dan ucapannya ini diikuti oleh banyak orang, sehingga mereka menjadi sesat dan menyembah patung anak sapi.
dakwakan patung itu sebagai Tuhan. Hasil kerja dan ucapannya ini diikuti oleh banyak orang, sehingga mereka menjadi sesat dan menyembah patung anak sapi.
“Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang lalim.” (QS Al Baqarah(2):92).
Pengkhianatan Samiri ini membuat Nabi Musa AS marah besar. Terjadilah dialog antara Nabi Musa AS dengan Samiri, usai Nabi Musa AS kembali dari bukit Thursina.
“Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” — Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.” (QS Thaha(20):95-96)
Yang dimaksud dengan jejak rasul di sini adalah ajaran2 Nabi Musa AS yg kemudian dilemparkan sehingga dia menjadi sesat. Menurut sebagian ahli tafsir yg lain, yg dimaksud dg jejak Rasul di sini adalah jejak tealapk kuda malaikat Jibril.
Dengan demikian, Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yg sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yg mengeluarkan suara.
Samiri sendiri akhirnya diusir oleh Nabi Musa AS,“Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).” (QS Thaha(20):97).
Semoga kita selalu membentengi diri dari aluran sesat yg sengaja ditiupkan kepada orang2 yg rapuh keimanannya.




0 komentar:
Posting Komentar